Senin, 28 Maret 2016

Keutamaan Di Karuniakannya Anak Perempuan

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Keutamaan Di Karuniakannya Anak Perempuan

Keutamaan Di Karuniakannya Anak Perempuan

Maha Suci Allah yang Maha Pencipta segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan segala sesuatu sempurna berdasarkan porsinya sesuai yang Dia kehendaki.
Sebagian orang tua mungkin lebih menginginkan anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Karena laki-laki dirasa akan menjadi pelindung bagi keluarga, pejuang, pemimpin, dan penerus perusahaan keluarga (jika yang memiliki perusahaan) atau penerus cita-cita orangtua yang sempat tidak tercapai. Baik laki-laki dan perempuan di mata Allah sama saja, yang membedakan adalah tingkat ketaqwaannya.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]:13)
Dan, bergembiralah bagi orangtua yang memiliki anak perempuan, sabar dalam menghadapi dan mendidiknya sesuai Syariah Islam. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Barangsiapa yang mengasuh atau memelihara dua anak perempuan sehingga besar, nanti pada hari kiamat aku dengan dia seperti ini (sambil Nabi merapatkan jari-jarinya).” (H.R Bukhari dan Muslim)
“Barangsiapa yang mendapatkan kesusahan di karenakan mempunyai anak-anak perempuan, tetapi ia tetap berlaku baik kepada mereka, nanti pada hari kiamat mereka akan menjadi dinding baginya api neraka.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
“Barangsiapa diantara kalian mempunyai tiga orang anak gadis lalu ia sabar merawatnya dalam keadaan susah dan senang, maka Allah akan memasukkan dia ke surga berkat kasih sayang orang itu kepada ketiganya”,
lalu seseorang bertanya:”Bagaimana dengan dua wahai Rasulullah?”, beliau menjawab “Demikian juga dengan dua”,
lalu orang itu bertanya lagi: “Bagaimana dengan satu wahai Rasulullah?” beliau menjawab “Demikian juga dengan satu.” (H.R. Ahmad)
“Siapa yang mempunyai tiga anak perempuan dan dia sabar terhadap mereka serta memberi mereka pakaian dari hartanya, niscaya Allah akan memberikan pelindung baginya dari api-neraka.” (H.R. Ibnu Majah)
Dengan ini, jelas bahwa seorang muslim yang mempunyai anak perempuan, dia bersyukur dan dia mampu mendidik, menyayangi, dan memeliharanya sesuai dengan ajaran Islam.



Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Keutamaan Birrul Walidain

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Keutamaan Birrul Walidain

Keutamaan Birrul Walidain

Salah satu ibadah teragung di dalam Islam setelah mentauhidkan Alloh adalah birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua. Jika pada kesempatan sebelumnya telah dibahas panjang lebar tentang “kewajiban anak terhadap orang tua”, diartikel ini akan lebih difokuskan pada pembahasan Keutamaan yang akan seorang anak dapatkan tatkala memenuhi kewajibannya tersebut. Birrul walidain merupakan ajaran Islam yang tinggi dan mulia. Birrul walidain ialah pondasi dan asas seorang hamba meraih ridho Alloh

Namun sangat disayangkan kenyataan dihari ini betapa banyak para anak yang telah melalaikan kewajiban birrul walidain kepada kedua orang tuanya. Akhirnya perilaku durhaka kepada kedua orang tua benar-benar mencapai tingkat yang cukup memprihatinkan. Jika harus menyalahkan, siapa yang harus kita salahkan? Apakah Keluarga, kebanyakan masyarakat, tempat seroang anak bersekolah atau pergaulan yang salah, yang jelas fenomena durhakanya seorang anak ini harus diluruskan. Di antara bentuk pelurusan tersebut adalah kita berusaha mengkaji atau mempelajari kembali keutamaan birrul walidain terhadap orang tua lantas kita amalkan dan mendakwahkannya kepada orang-orang disekitar kita.

#Keutamaan Birrul Walidain di dalam Islam

Selain birrul walidain merupakan kewajiban bagi setiap Muslim atau Muslimah, birrul walidain mempunyai banyak keutamaan di dalam Islam. Kalau kita gali dan telaah banyak keterangan baik itu dalam Al Quran maupun hadist yang disampaikan oleh Rasululloh Sholallohu’alaihi wa salla kepada kita tentang keutamaan birrul walidain di dalam Islam. Di antara keutamaan tersebut adalah:

1. Birul walidain menjadi salah satu sebab panjangnya umur dan melimpahnya rezeky

Dalam sebuah hadist, Rasululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam pernah menjelaskan tentang masalah ini yang artinya:
Dari Anas bin Malik dia berkata, Rosululloh bersabda. Barangsiapa yang menginginkan untuk dipanjangkan umur baginya dan ditambah rezekinya, maka hendaklah berbakti pada kedua orang tuanya serta menyambung silaturahmi.” (HR. Ahmad)

2.Birrul walidain merupakan salah satu wasilah/perantara untuk menghilangkan bencana dan kesempitan yang melanda.

Semua orang tentu pernah merasakan yang namanya bencana dan kesempitan hidup, kesusahan serta masalah yang datang silih berganti tida henti menghapiri. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan imam Muslim dari Abdulloh Ibnu Umar yang menceritakan tentang kisah 3 orang yang terjebak di dalam gua. Di antara 3 orang tersebut ada satu orang yang bertawassul dengan birrul walidainnya kepada orang tuanya.
Seorang dari mereka berkata yang artinya: “Ya Alloh , aku memiliki orang tua yang telah renta serta lanjut usianya dan aku tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah aku mencari kayu – yang dimaksud adalah daun-daunan untuk makanan ternak. Aku belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya akupun terus memerah minuman untuk keduanya dan ketika keduanya aku temui ternyata telah tertidur telah tidur. Aku enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya aku tetap dalam keadaan menunggu mereka bangun dari tidurnya dan gelas itu tetap pula di tanganku, sehingga fajarpun menyingsing, Anak-anak kecil pun sama mereka menangis karena kelaparan sedang mereka berada di dekat kedua kakiku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Alloh , jikalau aku mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhoan-Mu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutupi ini.” Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.
Dari penggalan hadits tersebut jelas bahwa birrul walidain bisa menjadi sarana bertawassul kepada Alloh Subhanahuwata’ala untuk menghilangkan segala bencana yang melanda kita.

3.Birrul walidain salalah satu sebat mustajabnya doa.

Dari Umar bin Khoththob berkata, Aku mendengar Rosululloh sholallhu’alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya;
Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama gerombolan musafir dari negeri Yaman yang berasal dari daerah Murod kemudian berdiam di daerah Qorn. Dia diuji oleh Alloh denganpenyakit kusta disekujur tubuhnya kemudian sembuh kecuali tinggal bercakan sebesar dirham di tubuhnya. Dia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah dalam doanya tentu Alloh Ta’ala akan mengabulkannya. Jika kalian mampu agar dia memohonkan ampun kepada Alloh untuk kalian, maka lakukanlah.” (HR. Muslim)

4.Birrul walidain merupakan salah satu sarana untuk menghapus dosa.

Siapa didunia ini yang tidak memiliki dosa, entah itu dosa kecil atau pun dosa besar yang mengundang kemurkaan Alloh Ta’ala baik didunia maupun diakhirat nanti. Birrul walidain merupakan salah satu sarana yang dapat kita lakukan sebagai penghapus dosa-dosa yang kita miliki. Hal ini sebagaimana hadits Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam .
Dari Umar bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata: “Wahai Rosululloh sesungguhnya aku telah terjatuh kepada suatu perbuatan dosa besar. Apakah masih ada taubat bagi saya?. Nabi bersabda, Apakah engkau masih mempunyai Ibu? Diapun menjawab, ‘Tidak.’ Apakah engkau masih memiliki bibi dari pihak ibu?. Diapun menjawab,’Ya’. Nabi bersabda; Maka berbuat baiklah kepadanya.” (HR. at-Tirmidzi)
Tentang kedudukan bibi dari pihak ibu Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam pernah bersabda;
Bibi dari pihak ibu itu kedudukannya sama seperti seorang ibu (ketika ibu telah meninggal). (HR. at-Tirmidzi)
Dari hadits di atas jelas sekali bahwa berbakti kepada kedua orang tua terutama kapada seorang ibu bisa menghapuskan dosa-dosa seseorang sekalipun dosa yang dimilikinya adalah dosa yang besar tentunya dengan izin Alloh Subhanahuwata’ala.

5.Birrul walidain merupakan jalan menuju Jannah.

Tentu semua orang sangat menginginkan untuk menjadi salah satu penghuni Surga atau Jannah yang penuh dengan kenikmatan. Berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan salah satu sarana untuk seseorang yang ingin memasuki jannah. Dalam hal ini, ada hadist yang disampaikan oleh imam Al Baihaqi yang artinya:
“Dari Aisyah dia berkata, Rosululloh bersabda: ‘Aku telah bermimpi berada di dalam surga, maka aku mendengar seorang pembaca yang melantunkan bacaan.’ Akupun bertanya siapakah dia? Maka malaikatpun menjawab dia adalah sahabat Haritsah bin an-Nu’man . Maka Rosululloh menjawab itulah berbakti. Itulah berbakti. Dia adalah sebaik-baik manusia yang berbakti kepada ibunya.’ (HR. al Baihaqi)
Di dalam riwayat yang lain disebutkan.
Dari Abu Hurairoh dia berkata, Rosululloh bersabda, “Sungguh celaka, sungguh celaka, Sungguh celaka.” Dikatakan oleh Para sahabat siapakah mereka wahai Rosululloh . Nabi menjawab, yaitu mereka yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut akan tetapi tidak memasukkan kedalam jannah.” (HR. Muslim)
Dari hadits di atas jelas bahwa birrul walidain adalah sarana menuju jannah Alloh subhanahuwata’ala yang penuh dengan kenikmatan. Untuk itu jangan sampai kita tunda Lagi kesempatan ini. Jika orang tua kita masih ada, maka jangan sampai kita menelantarkan mereka. Berbuatbaklah semampu yang kita bisa, senangkan mereka dan jangna sampai menyinggung perasaan keduanya. Jika hari ini orang tua kita telah tiada, maka kita pun masih bisa berbuat baik keapda mereka baik dengan senantiasa mendoakan keduanya atau berupa sedekah yang pahalanya kita tujukan bagi mereka. Jika Anda hendak bersedekah saat ini juga, silahkan kunjungi situsnya di: http://takrim-alquran.org (salah satu tempat penyaluran sedekah untuk pembelian Al Quran yang akan disalurkan ke pesantren-pesantren di seluruh indonesia). Jika Anda putuskan untuk ikut bersedekah al Quran, keutamannya banyak sekali. (Baca : Keutaman Sedekah Al Quran).
Jika selama ini kita telah berbakti kepada kedua orang tua, maka bersyukurlah dengan karunia yang telah Alloh berikan tersebut. Selanjutnya berusahalah istiqomah karena memang ini bukan amalan yang mudah. Adapun jika selama ini kita tidak paham akan keutamaan berbakti kepada orang tua, maka mulailah dari sekarang dan jangan ditunda lagi. Inilah ladang kita meraup pahala sekaligus pintu kita masuk surga. Semoga kita selalu dimudahkan dalam birul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua kita. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat baik bagi kami maupun bagi kaum muslimin secara umum Wallohu a’lam bishowab. Terimaksih telah berkunjung.


Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Ternyata Musibah Asap Sudah Ada di Al Quran

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Ternyata Musibah Asap Sudah Ada di Al Quran

Ternyata Musibah Asap Sudah Ada di Al Quran

Kabut asap yang melanda Pulau Kalimantan dan Sumatera sudah berlangsung sekitar empat bulan. Total lahan yang terbakar di dua wilayah tersebut menurut data  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencapai 1,7 juta hektar.
Musibah ini menimbulkan kerugian besar bagi swasta dan pemerintah. Berdasarkan data dari Center for International Forestry Research (CIFOR), kerugian akibat kabut asap mencapai Rp200 trilliun. Jumlah ini hanya perhitungan kasar dilihat dari dampak ekonomi, tanaman yang terbakar, air tercemar, penerbangan dan juga korban jiwa.
Kondisi ini diperparah dengan kemarau panjang yang melanda negeri ini. Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun asap yang tidak kunjung hilang. Bahkan masyarakat dan Pemerintah Daerah juga menggelar salat Istisqa untuk meminta hujan, akan tetapi hujan juga tidak kunjung datang.
Lantas benarkan asap ini merupakan faktor alam atau faktor kelalaian manusia saja?  Atau asap ini layaknya azab yang diterima kaum terdahulu karena dosa kepada Allah SWT? Ternyata musibah asap ini sudah dijelaskan dalam Alquran. Semua musibah dan bencana besar yang menimpa manusia selalu terkait dengan kekufuran atau keingkaran manusia.
Dalam Al-Qur’an Surah At-Taghabun ayat 11 Allah SWT berfirman yang artinya, “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.” Surah At-Taghabun ayat 11 .
Dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana. Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang di atasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tanah longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.” (HR. Tirmidzi, 2136).
Dalam QS. Ad-Dukhan ayat 9-11 Allah berfirman: “(Mereka tidak meyakini kebenaran yang dijelaskan kepada mereka), bahkan mereka masih tenggelam dalam keraguan sambil bermain-main (Dalam Urusan Agama). Dan Tunggulah, pada hari ketika langit membawa kabut asap yang tampak jelas. Yang meliputi seluruh manusia dan inilah azab yang pedih”. (Q.S Ad-Dukhan ayat 9-11)
Para mufasirin (ahli tafsir) berpendapat bahwa “Dukhan” tersebut adalah kabut asap yang meliputi manusia ketika neraka mendekat kepada orang-orang yang berdosa.
Azab-azab suatu kaum sudah banyak terjadi pada umat terdahulu yang diungkapkan dalam Alquran. Azab tersebut menewaskan suatu kaum hingga tidak bersisa. Boleh jadi  azab kabut asap bisa menyusahkan manusia, mendatangkan penyakit dan berbagai kesusahan lainnya.
Allah SWT dengan jelas dan tegas mengatakan musibah yang menimpa manusia itu penyebabnya perbuatan manusia itu sendiri. Musibah kabut asap yang terjadi bukan buat yang pertama. Fakta yang ada bencana kabut asap sudah rutinitas, setiap tahun berulangkali terjadi.
Penyebabnya juga sudah diketahui, sudah terdeteksi yakni akibat land clearing dari sejumlah perkebunan besar. Firman Allah SWT itu terbukti akibat perbuatan manusia sehingga manusia harus bertanggungjawab.
Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41-42 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah:”Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Ar-Rum ayat 41-42)
Allah SWT mengingatkan manusia dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 3 yang artinya, “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti).” (Q.S.Hud ayat 3)


Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Bentengi Keluarga Kita Dengan Dzikir dan Doa

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Bentengi Keluarga Kita Dengan Dzikir dan Doa

Bentengi Keluarga Kita Dengan Dzikir dan Doa

Semua orang mendambakan kebaikan dan kebahagiaan. Jika ada bencana mengancam, manusia berusaha menangkalnya dengan berbagai cara.  Manusia yang tipis imannya sangat rawan terjerumus dalam kemusyrikan.
Musibah dan bencana hanyalah peringatan untuk menyadarkan manusia terhadap kewajiban penghambaan dan pengabdian kepada Allah, ingat keagungan dan kekuasaan Allah, dan lari menuju Allah dengan segala kelemahannya memohon perlindungan kepada-Nya.
Berdoa dengan segala kerendahan dan kepasrahan sudah menjadi barang langka, sehingga kini  hanya sekedar formalitas dalam momen tertentu saja. Banyak orang meragukan kekuatan do’a sebagai solusi. Logika ilmiah mendominasi dan menafikkan kekuasaan Allah.
Allah Swt berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al Mukmin: 60).  Nabi bersabda: ”Sesungguhnya Allah itu Maha Malu dan Maha Pemurah. Allah malu jika ada seseorang yang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya tapi kemudian menolaknya dengan tangan hampa.” Lindungilah keluarga kita dengan dzikir dan do’a.
Zikir, Ibadah yang Sangat Agung
Allah berfirman, “Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku juga akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152).  Orang yang hadir dalam majelis dzikir adalah orang yang berbahagia, karena mendengar ayat Allah dan hadits Nabi yang merupakan sumber ketenangan.
Rasul bersabda: “Sesungguhnya hatiku lupa (tidak ingat kepada Allah), padahal sesungguhnya aku minta ampun kepadaNya dalam sehari seratus kali.” Beliau senantiasa memperbanyak dzikir, mendekatkan diri kepada-Nya dan waspada. Jika ada sebagian waktu terlewat tanpa dzikir, maka beliau menganggapnya dosa dan cepat-cepat istighfar.
Dzikir (mengingat Allah) merupakan pokok dari syukur. Faedah dzikir adalah mendatangkan pertolongan Allah, mendatangkan ampunan dan pahala yang besar.
Dzikir ada dua macam. Dzikir umum: shalat, membaca Al-Qur’an, mempelajari dan mengajarkan ilmu Allah, memuji Allah, menyucikan Allah dari segala yang tidak layak bagi-Nya, mengingat nikmat Allah, mengingat perintah Allah sehingga seseorang segera menjalankannya. Dzikir khusus: tasbih, tahmid, takbir, dan lain-lain.
Dari Abdullah bin Busr ra bahwa seorang lelaki bertanya: “Sesungguhnya syari’at Islam ini terlalu banyak bagiku, maka tunjukkanlah kepadaku sebuah perbuatan yang selalu aku kerjakan” Rasulullah bersabda: “Lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah”.
Dzikir dan Do’a Perlindungan

Dzikir perlindungan dari gangguan sihir atau jin: Ayat Kursi, surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas, dua ayat terakhir dari surat at-Taubat, doa
 “a’uudzu bikalimaatillaahittaammaati min syarri maa kholaq”; “bismillaahilladzi laa yadlurru ma’asmihi syai un fil-ardli walaa fissamaai wahuwassamii’ul ‘aliim”.
Doa hendak tidur: “bismillaahi amuutu wa ahyaa, membaca ayat kursi, disusul dengan dua ayat terakhir al-Baqarah, dan “allaahumma aslamtu nafsii ilaika, wa wajjahtu wajhii ilaika, wa fawwadltu amrii ilaika, wa aljaitu dhohrii ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, laa malja’a walaa manjaa minka illaa ilaika, aamantu bikitaabika alladzii anzalta, wanabiyyika alladzii arsalta”
Wirid setelah shalat: laa ilaaha illallah wahdahuu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu, yuhyii wa yumiitu wahuwa ‘alaa kulli syaiin qodiir, ayat kursi, subhaanallaah 33x, al hamdulillah 33x, Allaahu akbar 33x, “laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah, lahul mulku waalahulhamdu wahuwa ‘alaa kulli syaiin qadiir, Hasbunallaah wani’mal wakiil 20x,
astaghfirullaahal ‘adziim 20x, sholawat kepada rasul 10x, astaghfirullaah al-‘adziim alladzii laa ilaaha illaa huwa al-hayyu al-qoyyuum wa atuubu ilaih. 3x
, doa sebisanya untuk diri sendiri, keluarga dan yang lainnya, surat al-Fatihah.
Do’a adalah Senjata Orang Mu’min
Rasul bersabda: “ Tiada satupun yang lebih mulia bagi Allah melainkan do’a”. “Do’a itu otaknya ibadah”. “Tiada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari berdo’a kepada-Nya sedang kita dalam keadaan lapang”.
Tata cara berdo’a: menghadap Kiblat, basmalah, hamdalah, istighfar dan shalawat, dengan suara lembut dan rasa takut, yakin dipenuhi.
Waktu mustajab: sujud, antara adzan dan iqamat, menjelang shalat dan sesudahnya, sepertiga malam  terakhir, hari Jum’at, antara dzuhur dan ashar serta ashar dan maghrib, khatm Al-Qur’an, hujan, tawaf, menghadapi musuh di medan perang, dan dalam perjalanan.
Tempat  mustajab: Kabah, masjid Rasulullah Saw, makam Nabi Ibrahim as,  bukit Safa dan Marwah, Arafah, Muzdalifah, Mina, jamarat yang tiga, masjid atau mushalla.
Mengapa Do’a Sulit Terkabul
Hubungan antara Rabb dengan hambanya seperti seorang hamba terhadap rajanya: tunduk, takluk, taat, hormat, setia, membela, menjaga serta meninggikan rajanya.  Hubungan antara hamba dengan Tuhannya jauh lebih hebat lagi.  Kenyataan yang terjadi adalah keluh kesah jika tidak sesuai keinginan, merasa keberatan atas ketentuan dan rencana Tuhan Yang Maha Sempurna.
Allah yang menciptakan manusia Maha mengetahui apa yang terbaik bagi setiap manusia.  Bisa saja kita berdo’a untuk meminta sesuatu yang sebenarnya tidak baik bahkan berbahaya.
Berdo’alah dengan bijaksana, mempertimbangkan kepantasan serta keamanan bagi kita dan orang lain, tawadhu, sabar, bersyukur dengan apa yang ada, memelihara salam, banyak membantu dan mendo’akan orang lain, diawali dengan basmalah, diakhiri dengan shalawat nabi, serta penuh penghayatan kepada Allah.
Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar, Allah jadikan baginya kesukaan dari tiap-tiap kesusahan dan Allah jadikan baginya jalan keluar dari tiap-tiap kesempitan dan Dia rezekikan kepadanya dari jurusan yang dia tidak sangka-sangka.”
Rasulullah Saw bersabda, “Tidak seorangpun muslim yang berdo’a dengan sesuatu do’a yang tidak berunsur dosa atau memutus silaturrahim, kecuali Allah akan memberinya satu dari tiga perkara; do’anya langsung dikabulkan, disimpan untuknya pada hari akhirat, dijauhkan darinya keburukan yang setara dengannya. Berkata para sahabat: “Jikalau begitu, kami akan memperbanyak do’a. Rasulullah menjawab: Allah lebih banyak pemberiannya.” (HR Ahmad)
Kekuatan Doa
Sabda Rasulullah Saw: “Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali do’a.” (HR. al-Hakim). Di Badar, Rasulullah tak henti-hentinya memohon kemenangan kepada Allah.
Langit Badar yang memerah, menjadi saksi mujarabnya do’a Rasulullah dan kaum mukminin. Kemenangan besar diperoleh pasukan mukminin yang berjumlah lebih sedikit.
Amru Khalid menukil dari Sufyan bin Uyainah yang mengatakan, ”Jangan takut bila Allah tidak akan mengabulkan do’amu karena Dia mengetahui kejelekan yang ada padamu.   Dia mengabulkan do’a dari makhluk-Nya yang paling jelek (iblis terlaknat).  Iblis berkata, ”Beri tangguhlah saya sampai hari kiamat. Allah-pun mengabulkan permintaan Iblis ini dan berfirman, ”Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi tangguh.”  Bila permohonan Iblis saja dikabulkan Allah, tidakkah Dia akan mengabulkan permohonan kita?
Kekuatan do’a istri sholihah, pada kisah Nabi Ayub as yang diuji dengan penyakit parah. Istrinya tetap melayani dan mendo’akan kesembuhannya. Allah mengabulkan do’anya. Rasulullah bersabda: “ Ibu lebih penyayang dari pada Bapak, dan do’a orang yang penyayang tidak akan sia-sia”.
Menjaga Rumah dari Gangguan Setan
Kita sangat mendambakan rumah yang nyaman, aman, damai & tenang. Rasulullah Saw bersabda,“Bila hari telah senja tahanlah anak-anakmu untuk tak keluar rumah, karena pada waktu itu banyak setan berkeliaran. Bila waktu telah berlalu, biarkanlah mereka, tutuplah pintu-pintu rumah, sebutlah nama Allah, karena setan tak dapat membuka pintu-pintu yang tertutup. Tutuplah tempat minum & sebutlah nama Allah, tutuplah bejana-bejana kalian dan sebutlah nama Allah, walau dengan meletakkan sesuatu di atasnya, dan matikan lampu-lampu.”(Mutafaqqun’alaihi)
Ada 6 amalan tolak bala bencana yang Allah tunjukkan kepada kita: dzikir-do’a-sholawat, takwa, restu dan ridha orang tua, sedekah, istighfar, silaturrahim, dan senantiasa berbuat baik. Semoga Allah melindungi keluarga kita dari berbagai bala bencana. Amin.

Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Anjuran Mensyukuri Nikmat

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Anjuran Mensyukuri Nikmat

Anjuran Mensyukuri Nikmat

ANJURAN MENSYUKURI NIKMAT
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالى
nisrina.co.id Toko Baju Muslim Online-Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.
Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allâh yang telah dianugerahkan kepada kalian.”
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhâri (no. 6490); Muslim (no. 2963 (9)), dan ini lafazhnya; At-Tirmidzi (no. 2513); Dan Ibnu Majah (no. 4142).
KOSA KATA HADITS
• أَسْفَلَ مِنْكُمْ : Orang yang lebih rendah dari pada kalian dalam hal dunia.
• أَجْدَرُ : Lebih patut, lebih layak.
• تَزْدَرُوْا = تَحْتَقِرُوْا : Mengecilkan dan meremehkan.[1]
SYARAH HADITS
Alangkah agungnya wasiat ini dan alangkah besar manfaatnya, kalimat yang menentramkan dan menenangkan. Hadits ini menunjukkan anjuran untuk bersyukur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan mengakui nikmat-nikmat-Nya, membicarakannya, mentaati Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan melakukan semua sebab yang dapat membantu kita bersyukur kepada-Nya.
Syukur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah inti ibadah, pokok kebaikan, dan merupakan hal yang paling wajib atas manusia. Karena tidak ada pada diri seorang hamba dari nikmat yang tampak maupun tersembunyi, yang khusus maupun umum, melainkan berasal dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allâh, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” [An-Nahl/16:53]
Allâh Azza wa Jalla memberikan berbagai kebaikan dan menolak kejahatan dan keburukan. Oleh karena itu, seorang hamba harus benar-benar bersyukur kepada-Nya. Hendaknya seorang hamba berusaha dengan segala cara yang dapat mengantarnya dan membantunya untuk bersyukur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. [Al-Baqarah/2:152]
Dan firman-Nya :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. [Ibrâhîm/14:7]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas, telah menunjukkan obat dan faktor yang sangat kuat agar seseorang bisa mensyukuri nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yaitu hendaknya setiap hamba memperhatikan orang yang lebih rendah darinya dalam hal akal, nasab, harta, dan nikmat-nikmat lainnya. Jika seorang terus-menerus melakukan ini, maka ini akan menuntunnya untuk banyak bersyukur kepada Rabb-nya serta menyanjung-Nya. Karena dia selalu melihat orang-orang yang keadaannya jauh berada di bawahnya dalam hal-hal tersebut. Banyak di antara mereka itu berharap bisa sampai –atau minimal mendekati- apa yang telah diberikan padanya dari nikmat kesehatan, harta, rezeki, fisik, maupun akhlak. Kemudian dia akan banyak memuji Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang telahmemberinya banyak karunia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Apabila seseorang melihat orang yang terkena musibah, kemudian ia mengucapkan:
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً
Segala puji bagi Allâh yang menyelamatkan aku dari musibah yang Allâh timpakan kepadamu. Dan Allâh telah memberi keutamaan kepadaku melebihi orang banyak.’
Maka musibah itu tidak akan menimpa dia.”[2]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Barangsiapa melihat seseorang yang terkena cobaan, lalu mengucapkan :
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً
Segala puji bagi Allâh yang telah menghindarkan aku dari apa yang Dia timpakan kepadamu dan Dia melebihkanku atas kebanyakan manusia dengan kelebihan yang banyak
Niscaya dia akan benar-benar terhindar dari cobaan tersebut dalam keadaan apapun, selama dia hidup.”[3]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, yang artinya,” Barangsiapa tiba-tiba berjumpa dengan orang yang terkena cobaan, lalu mengucapkan :
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً ، عُوْفِيَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلاَءِ كَائِنًا مَا كَانَ.
Segala puji bagi Allâh yang telah menghindarkan aku dari apa yang Dia timpakan kepadamu dan Dia melebihkanku atas kebanyakan manusia dengan kelebihan yang banyak
Niscaya dia akan benar-benar terhindar dari cobaan tersebut dalam keadaan apapun.”[4]
Jika seseorang akan melihat banyak orang yang kurang akalnya, maka dia memuji Rabb-nya atas kesempurnaan akalnya. Begitu pula dia menyaksikan banyak orang tidak memiliki persediaanmakanan, tidak memiliki tempat tinggal untuk bernaung, sementara dia dalam keadaan tenang di tempatnya dan diberi kelapangan rezeki.
Seseorang akan melihat pula banyak orang yang diberi cobaan dengan berbagai penyakit, sementara dia diselamatkan dari semua itu dan senantiasa dalam kondisi ‘âfiah (sehat). Dia juga menyaksikan sejumlah orang diberi bencana lebih besar daripada itu, berupa penyimpangan dalam agama dan terjerumus dalam maksiat, sementara Allâh Subhanahu wa Ta’ala memeliharanya dari hal-hal tersebut, dan dari hal-hal lainnya.
Dia juga memperhatikan banyak manusia yang diliputi kegundahan, kesedihan, dan was-was, serta kesempitan dada. Lalu dia melihat keadaannya yang terbebas dari penyakit ini, mendapat karunia Allâh Subhanahu wa Ta’ala berupa ketentraman hati, hingga mungkin orang fakir yang mendapat kelebihan nikmat ini, -yakni merasa qanâ’ah (merasa cukup) dan ketentraman hati- lebih banyak dari orang-orang kaya.
Kemudian barangsiapa yang diberi cobaan dengan perkara-perkara tersebut, lalu dia mendapati banyak manusia mengalami musibah yang lebih besar dan lebih berat darinya, maka dia memuji Allâh Subhanahu wa Ta’ala atas ringannya cobaan (yang diberikan kepadanya). Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu perkara yang tak disenangi melainkan ada yang lebih besar darinya.
Barangsiapa diberi taufik mendapatkan hidayah kepada apa yang diarahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, maka rasa syukurnya akan senantiasa kuat dan tumbuh, dan nikmat-nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa turun kepadanya dengan berkesinambungan dan terus-menerus.
Adapun orang yang berlawanan (dengan yang disebutkan di atas), pandangannya ke atas dan melihat kepada orang di atasnya, baik dalam hal kesehatan, harta, rezeki, dan segala hal yang berkaitan dengannya, maka sudah pasti dia akan mengingkari nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala serta tidak bisa bersyukur. Di saat kesyukuran hilang dari diri seseorang, maka hilang pula darinya nikmat-nikmat. Saat itu, bencana akan silih berganti menghampirinya, dia akan merasa gelisah terus menerus, selalu sedih, murka terhadap orang-orang yang mendapat kebaikan, serta tidak ridha Allâh Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb yang Maha Pengatur. Maka inilah bencana dalam agama dan dunia serta kerugian yang nyata.
Ketahuilah, barangsiapa yang memperhatikan nikmat-nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala berlimpah, mengetahui yang lahir dan batin, dan menyadari bahwa itu semua hanyalah semata-mata karunia dan kebaikan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , maka tentu dia akan sangat bersyukur kepada-Nya. Satu jenis nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala saja, dia tidak akan mampu menghitung dan menilainya, apalagi semua jenisnya. Misalnya, nikmat mata yang sehat, akal jernih, telinga yang berfungsi normal, air, udara, oksigen, dan lainnya. Jika ini disadari, maka dia harusnya mengakui secara sempurna nikmat-nikmat Allâh Azza wa Jalla tersebut, banyak memuji-Nya, dan malu kepada Rabb-nya untuk meminta dan melakukan sesuatu yang tidak dicintai dan tidak diridhai Allâh Azza wa Jalla . Rasa malu terhadap Rabb-nya ini, termasuk cabang keimanan yang paling utama. Dia malu kepada Allâh Azza wa Jalla jika Allâh Azza wa Jalla melihatnya berbuat sesuatu yang terlarang atau tidak melakukan apa yang diperintah-Nya. Dengan demikian, dia telah bersyukur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah Allâh dan menjauhkan larangan-Nya. Perintah yang paling besar adalah mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla , syukur yang paling besar adalah mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla , dan larangan yang paling besar adalah syirik. Kita wajib mengikhlaskan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla dan menjauhkan segala macam perbuatan syirik.
Oleh karena syukur merupakan inti kebaikan dan tandanya, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu :
إِنِّيْ لَأُحِبُّكَ ، لاَ تَدَعَنَّ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ: اَللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
Sungguh aku mencintaimu, janganlah engkau tinggalkan di akhir (setelah selesai) setiap shalat untuk mengucapkan ; ‘Ya Allâh, tolonglah aku untuk berdzikir (selalu ingat) kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta memperbaiki ibadah kepada-Mu’.”[5]
Sungguh, banyak orang-orang yang selalu bersyukur mengakui kelemahannya dalam mensyukuri nikmat Allâh, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
… لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ، أنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
“… Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri.”[6]
Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla .

Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/


Nisrina Peduli Wanita!